Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Rabu, 19 Desember 2012

DPRD DKI "Shock" dengan Gaya Jokowi-Basuki

DPRD DKI "Shock" dengan Gaya Jokowi-Basuki
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo bersama Wakil Gubernur, Basuki Tjahaja Purnama menerima ucapan selamat usai pelantikan mereka di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2012). Pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih ini dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk masa jabatan 2012-2017.

Gebrakan yang dilakukan pasangan pemimpin Jakarta Baru, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, seakan memberi terapi kejut untuk warga Ibu Kota. Tak terkecuali di jajaran elite, baik eksekutif maupun legislatif.


Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Wanda Hamidah mengakui, banyak hal yang membuat legisla
tif terkejut dengan gaya kepemimpinan Jokowi-Basuki. Bila di era sebelumnya semua ditutup rapat, kali ini justru sebaliknya.

Hal-hal kecil sampai pada pembahasan rencana anggaran didorong untuk terbuka bagi masyarakat. Hal ini dilakukan demi menciptakan keterbukaan dan pengawasan yang dilakukan secara bersama.

Salah satu contohnya adalah pada pembahasan anggaran DKI untuk 2013. Minimnya komunikasi antara legislatif dan eksekutif akhirnya memicu pembahasan menjadi alot. Buntutnya, agenda pengesahan menjadi molor dan eksekusi program pada 2013 terancam mundur dua bulan.

"Keterlambatan itu bisa dipahami karena konsep kerja Jokowi sama Ahok yang berbeda dari pemimpin sebelumnya," kata Wanda saat dijumpai di Balaikota Jakarta, Rabu (19/12/2012).

Beberapa waktu sebelumnya, mencuat banyak komentar yang berisi nada tantangan pada DPRD DKI untuk menggelar semua agenda rapat secara terbuka. Termasuk tantangan dari Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang menantang rapat pembahasan anggaran disiarkan live di televisi.

"Saya sih mendukung, terbuka kan positif. Tapi, mungkin DPRD shock karena biasanya tertutup, tapi sekarang diminta dibuka semua. Dengan perubahan drastis ini, ada kegamangan di DPRD," ujar Wanda.

Sumber: kompas.com