Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Kamis, 26 Desember 2013

Ada Apa Jokowi Pakai Kemeja Kotak-kotak Lagi..?

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat menguji coba jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang pada Kamis (26/12/2013).

Sejak terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo tak lagi memakai kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khasnya saat kampanye. Namun, hari ini, kemeja kotak-kotak itu dikenakan lagi.

Selama blusukan, Jokowi itu lebih sering mengenakan kemeja putih, celana bahan hitam, plus sepatu kets kesukaannya yang sudah robek. Kemeja kotak-kotak tersimpan rapi di lemari.

Saat melakukan uji coba pelintasan Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jokowi memakai lagi baju kotak-kotak tersebut. Ketika ditanya wartawan, Jokowi tersenyum.

"Ah, ini kemejanya tadi yang kelihatan cuma yang ini, jadi langsung tak pakai," kata Jokowi, saat menyusuri JLNT, Jakarta, Kamis (26/12/2013).

Pada masa kampanye, saat berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com, Sabtu (31/3/2013), Ahok sempat menuturkan arti kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khas Jokowi-Basuki.

"Kami memilih kemeja ini bukan tanpa alasan. Ini ada artinya. Intinya adalah kami akan kerja untuk rakyat dan turun terus ke lapangan. Jakarta butuh cagub-wagub yang tidak hanya duduk di belakang meja," kata Ahok kala itu.

"Kami tidak bisa memberikan yang terbaik pada masyarakat jika kami hanya berdiam saja di kantor, harus turun ke lapangan," ujarnya.

Soal tiga warna yang menjadi bagian dalam kostum tersebut, Ahok mengatakan, hal itu memiliki makna bahwa warga Jakarta beraneka ragam, baik dari suku, etnis, maupun agama, dan tetap hidup berdampingan dengan damai.

Sumber: kompas.com

Senin, 23 Desember 2013

Jokowi: Megawati Gagal....!!

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Dialog kebangsaan soal kedaulatan pangan serta martabat bangsa di UIN Syarif Hidayatullah, Sabtu (21/12/2013), berlangsung penuh canda. Salah satunya saat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengungkapkan bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri gagal terhadap dirinya.

Gagal apa yang dimaksud? Cerita berawal saat Jokowi hendak dicalonkan sebagai Wali Kota Surakarta sekitar sembilan tahun silam. FX Hadi Rudyatmo, Ketua PDI-P Surakarta yang menjadi calon wakilnya, mempertemukan Jokowi dengan Mega di kediamannya.

"Saya tahu ini dari Pak Rudy loh ya," ujar Jokowi memulai cerita. "Waktu saya datang itu kan dikenalin ke Bu Mega, ini wali kota yang akan maju sama saya. Rupanya Bu Mega di belakang bilang, enggak ada calon lain apa? Kok kurus. Kayak enggak punya bodi sebagai wali kota saja," kenang Jokowi meniru perkataan Rudy.

Rudy kemudian menjelaskan bahwa pemilihan Jokowi sebagai Wali Kota Surakarta telah sesuai dengan mekanisme partainya. Mega pun mau tidak mau menurut saja atas mekanisme yang dilakukan.

Seiring berjalannya waktu menjadi Wali Kota Surakarta, Jokowi menuai kesuksesan pada periode pertamanya. Alhasil, persepsi Mega pertama kali sedikit terobati. Hal itu, lanjut Jokowi, dilihat dari kembali diizinkan dirinya menjadi wali kota pada putaran kedua. Namun, belum selesai periode itu, Mega pun memanggil Jokowi.

"Saya ternyata dipanggil, ditugaskan Bu Mega jadi gubernur di Jakarta. Lalu saya sampaikan ke Ibu, 'Mohon maaf Bu, saya kan kurus, ndak punya bodi untuk menjadi Gubernur DKI'," ujarnya.

Mega, lanjut Jokowi, terkejut. Mega heran, mengapa Jokowi tahu apa yang menjadi pembicaraannya dengan Rudy. Belakangan, dia baru tahu bahwa Rudy membocorkan perbincangan ke Jokowi.

"Akhirnya saya urusan makan jadi nomor satu. Saya niat pengin gemukin badan. Tapi sampai saat ini Bu Mega gagal gemukkan saya. Mau diajak makan di rumah, warung, restoran, berat saya tetap 54 kilogram," lanjutnya dengan disambut tawa mahasiswa.

Megawati pun hanya tertawa mendengar kisah lucu tersebut. Hingga pukul 13.05 WIB, dialog kebangsaan tersebut masih berlangsung. Ratusan mahasiswa dan puluhan akademisi tampak serius memperhatikan acara yang dipandu oleh Sukardi Rinakit tersebut.

Sumber: kompas.com

Megawati Bongkar Rahasia Jokowi di Depan Mahasiswa

Megawati Bongkar Rahasia Jokowi di Depan Mahasiswa
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menghadiri "Dialog Kebangsaan: Kedaulatan Pangan dan Martabat Bangsa" di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Sabtu (21/12/2013).

Di depan ratusan mahasiswa serta para akademisi UIN Syarif Hidayatullah, Megawati Soekarnoputri membongkar rahasia Joko Widodo. Menurut Ketua Umum PDI Perjuangan itu, Jokowi kerap curhat kepadanya.

Megawati mengatakan, Jokowi biasa "mengadu" secara personal. Aduannya itu berisi persoalan yang dihadapi Jokowi di dalam menjalani program-programnya di DKI Jakarta.

"Kalau Dik Jokowi itu pusing, mesti ke rumah saya. Biasanya bawa makan. Saya tahu, mau nyogok ini. Ternyata benar. Bu, ada yang mau saya omongin," ujar Mega meniru ucapan Jokowi.

Hal itu disampaikannya di sela-sela dialog kebangsaan yang digelar di Aula Harun Nasution Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (21/12/2013).

Misalnya, kala Jokowi menertibkan ratusan warga di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara, dan Waduk Ria Rio, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Jokowi mengaku pusing lantaran banyak warga bantaran waduk yang menolak direlokasi ke rusunawa dan menudingnya tidak pro-rakyat.

"Pusing juga ya, Bu, ngurusin rakyat segitu banyak," ucap Mega meniru curhatan Jokowi.

Megawati pun memberikan dukungan kepada salah satu kader terbaiknya tersebut. Mega memberi wejangan agar mantan Wali Kota Surakarta itu tidak usah terlalu memikirkan pandangan negatif orang lain dan lebih baik fokus pada kerjanya menata Jakarta.

"Saya bilang, terus sajalah, jangan mendengarkan suara orang yang negatif. Apa yang rasa Dik baik, lakukan. Tapi, lihat dulu, keberpihakan kamu pada siapa, pada rakyat banyak," ujarnya.

Mendengar cerita tersebut, Jokowi hanya tertawa.

Acara tersebut selesai sekitar pukul 13.20. Adapun diskusi itu dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani, aktivis ICW Teten Masduki, dan aktris Cornelia Agatha.

Sumber: kompas.com