Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Kamis, 10 Januari 2013

Farhat: Basuki Jutek, Ngeyel, dan Nyolot

Farhat: Basuki Jutek, Ngeyel, dan Nyolot
Farhat Abbas saat mendatangi Balai Wartawan Polda Metro Jaya untuk mengklarifikasi pernyataannya di situs jejaring sosial Twitter, Kamis (10/1/2013).

Farhat Abbas menuai kecaman akibat kicauannya di Twitter yang dinilai bernada rasialis terhadap Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Meski demikian, Basuki menyatakan tidak tersinggung ataupun berniat membawa omongan Farhat itu ke ranah hukum.

Sikap tenang Basuki tersebut ternyata tidak menghentikan Farhat menyampaikan kritikannya terhadap pria yang akrab disapa Ahok tersebut. Saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Farhat yang kondang dikenal sebagai advokat ini menyampaikan pandangannya terhadap Basuki.

"Saat pilkada kemarin, saya memilih Basuki. Karena orang dari rumpunnya, dia biasanya ulet dan pekerja keras," kata Farhat di Mapolda Metro Jaya, Kamis (10/1/2013).

Namun, Farhat mengakui, ia merasa terusik atas ucapan Basuki yang menuding pelat nomor B 2 DKI yang seharusnya menjadi milik wakil gubernur sudah dijual oleh Polda Metro Jaya. "Karena ucapannya itu, saya jadi menganggap dia sebagai wagub yang cerewet dan resek. Saya cuma berharap semoga kemacetan di Jakarta ini bukan karena polisi yang tersinggung atas omongannya Ahok itu," kata Farhat.

Lebih jauh, ia menilai, bahwa kinerja Basuki dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sejak terpilih hanyalah berisi pencitraan-pencitraan belaka. "Yang saya lihat, dia hanya blusukan dan pencitraan, seperti membagikan parsel ke penjaga pintu air," kata suami artis Nia Daniati ini.

Menurutnya, kebijakan-kebijakan Jokowi-Basuki hanya membuat masyarakat yang miskin akan tetap miskin. "Buat saya, orang miskin itu tidak perlu dipelihara karena merupakan penyakit sosial, jadi harusnya tidak perlu diiming-imingi digaji atau disejahterakan oleh dana APBD. Kalau semua di Jakarta apa-apa gratis, orang makin banyak yang akan datang ke Jakarta. Makanya, hati saya gatal untuk protes," ujarnya.

Ia juga menilai inovasi Basuki untuk mengunggah tayangan rapat ke situ Youtube sebagai tindakan yang mempermalukan pejabat DKI Jakarta. "Kalau dia memang berwibawa, dia tidak harus masukkan ke Youtube. Lagi pula kalau tidak ada hasil juga buat apa," ujar Farhat.

Farhat pun mengakui, dia telah mengirimkan permintaan maaf kepada Basuki. Namun, lagi-lagi ia menyiratkan ketidakpuasannya atas respons Basuki yang enggan memperpanjang masalah ini atau membawa ke ranah hukum. "Dia cuma bilang dia tidak merasa saya salah, tandanya kan dia ngeyel. Selain ngeyel, dia juga jutek dan nyolot," kata Farhat.

Farhat menuai kritik dan menghadapi tudingan sebagai sosok rasialis akibat kicauannya di jejaring sosial Twitter. Dalam kicauannya, Rabu (9/1/2013) kemarin, Farhat mengkritik perkataan Basuki perihal pelat nomor B 2 DKI, tetapi menyelipkan kalimat yang mengungkit-ungkit latar etnis Basuki.

Pihak Polda Metro Jaya sendiri telah menyampaikan klarifikasi seputar ucapan Basuki ini. Menurut Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Wahyono, Jumat (4/1/2013), pelat nomor tersebut masih disimpan oleh pihak Polda Metro Jaya dan tidak diberikan ke pengusaha seperti yang disebut oleh Basuki.

Sumber: kompas.com