Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Sabtu, 27 Juli 2013

Pengamat: Basuki Tak Bisa Terus-terusan Bicara Keras

Pengamat komunikasi politik, Effendi Gazali.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Effendi Gazali, menilai gaya bicara keras Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama harus dilakukan secara tepat. Menurutnya, gaya berbicara keras ini tidak dapat dilakukan terus-menerus, tetapi perlu dilakukan di saat yang tepat.

Hal itu disampaikan oleh Effendi terkait perseteruan antara Basuki dan Wakil Ketua DPRD DKI, Abraham Lunggana, dalam beberapa hari terakhir. Basuki dan Lulung, sapaan Lunggana, berbeda sikap tentang penertiban pedagang kaki lima di Tanah Abang. Effendi setuju bahwa kawasan Tanah Abang memang harus ditertibkan. Namun, ia menilai penertiban itu harus dilakukan dalam momen yang tepat. "Momentum penertibannya kurang tepat sebab jelang Lebaran," ujar Effendi sebagaimana dikutip Tribunnews, Sabtu (27/7/2013).

Selain itu, Effendi menyoroti sikap Basuki yang secara terus-menerus menunjukkan sifat keras terhadap PKL. Menurutnya, Basuki semestinya memberikan jeda dalam memberikan pernyataan-pernyataan keras karena hal itu dapat mengundang reaksi keras.

"Cara berkomunikasi Basuki yang low context itu tidak bisa dipakai terus-terusan, seperti menabuh genderang perang. Harus ada jedanya, nanti di mana perlu keras lagi," katanya.

Effendi mengatakan, permasalahan yang terlanjur memanas antara PKL pasar Tanah Abang dengan Pemprov DKI Jakarta menjadi batu ujian Basuki dan Gubernur DKI Joko Widodo. Ia berharap langkah yang diambil oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu menyenangkan seluruh pihak.

Sumber : Tribunnews.com