Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Kamis, 09 Mei 2013

Nara: Pak Ahok, Jangan Lukai Hati Rakyat

Nara: Pak Ahok, Jangan Lukai Hati Rakyat 

Ketua DPD DKI Partai Demokrat Nachrowi Ramli ikut angkat bicara terkait ucapan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kepada warga Muara Baru, Pluit, yang enggan direlokasi. Dari mulut Basuki, kerap terlontar kata-kata kontroversial yang diperuntukkan bagi warga bantaran Waduk Pluit, mulai dari komunis hingga warga miskin yang harus tahu diri.

"Mungkin itu salah interpretasi saja, mungkin maksudnya Pak Ahok enggak seperti itu," kata pria yang akrab disapa Nara itu, di Hotel Acacia, Jakarta, Kamis (9/5/2013).

Kendati demikian, kata Nara, bukan berarti ia mendukung ucapan Basuki. Menurut Nara, yang pernah menjadi rival di pertarungan Pilkada DKI Jakarta 2012, Basuki sebagai pemimpin yang selalu didukung warganya jangan sampai melukai hati warga karena wargalah yang telah memercayainya menjadi pemimpin dan akan mendukung segala program unggulan Pemprov DKI.

"Intinya, Pak Ahok, jangan melukai hati rakyat," kata Nara singkat.

Sekadar informasi, upaya Pemprov DKI untuk merelokasi warga bantaran Waduk Pluit berjalan kurang mulus karena banyak warga yang bersikukuh tidak mau direlokasi ke Rusun Marunda. Puncaknya, pada Kamis (11/4/2013) lalu, Basuki mengancam akan melaporkan ke polisi terhadap warga yang menduduki lahan negara itu.

"Kalau enggak mau pindah, kita tangkap lapor polisi. Enak saja, memangnya komunis main duduk-dudukin. Kalau legal, tanda tangani surat perjanjian," kata Basuki.

Tak berhenti di situ, pada Senin (29/4/2013), Basuki tampak emosi ketika kembali mengetahui warga Pluit yang tetap bersikeras menduduki lahan itu. Pasalnya, Pemprov DKI telah memberikan segala fasilitas bagi para warga bantaran Waduk Pluit, seperti penyediaan rusun, Kartu Jakarta Sehat (KJS), dan Kartu Jakarta Pintar (KJP).

"Dikasih rusun, enggak mau. Dikasih rumah, enggak mau. Ya, kalau miskin pada tahu dirilah," ungkap Basuki.

Pernyataan itu pun ternyata berbuntut panjang. Warga Muara Baru yang tidak terima dengan pernyataan Basuki itu rencananya akan mengadu ke Komnas HAM.

Sumber: kompas.com