Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Kamis, 13 Maret 2014

"Kita Terlalu Mengelu-elukan Jokowi"


Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang biasa dipanggil Jokowi, berbincang-bincang dengan sejumlah wartawan dan pegiat sepeda di kantor Redaksi Kompas.com, kawasan Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2014). Jokowi menuju Kompas.com dengan menggunakan sepeda dari rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi semakin melambung. Sejumlah survei menempatkannya sebagai kandidat terkuat calon presiden. Wartawan senior Harian Kompas Budiarto Shambazy meminta masyarakat tak berharap terlalu tinggi jika Jokowi menjadi presiden. Jokowi, kata dia, adalah manusia biasa yang tak bisa menyelesaikan persoalan negara dalam sekejap.

"Dulu kita mengelu-elukan SBY, tapi setelah 10 tahun, kita kecewa. Artinya, hendaknya agar bersikap realistis. Sekarang kita terlalu mengelu-elukan Jokowi," ujarnya, dalam diskusi "Dwi Tunggal Jokowi-Ahok: Akankah Segera Berakhir?", di Jakarta, Rabu (12/3/2014). .

Namun, ia menekankan, pernyataannya bukan berarti menilai Jokowi tak berprestasi selama memimpin Ibu Kota. Jokowi, kata dia, justru memberikan harapan kepada warga Jakarta dengan konsep "Jakarta Baru".

"Semua orang sepakat kalau dia bekerja, apalagi jika dibandingkan (gubernur) sebelumnya. Tapi kan kita butuh (presiden) yang lebih dari sekedar bekerja, tapi juga inspiratif, seperti Bung Karno. Jadi jangan terlalu terpukau dengan citra Jokowi," ujarnya.

Kekuatan Jokowi, menurutnya, bukan karena dia manusia super, melainkan karena ia menempatkan diri menjadi bagian dari masyarakat.

Hal senada juga dilontarkan Pendiri Relawan Jakarta Baru, Hasan Nasbi. Menurutnya, persoalan negara belum selesai setelah Jokowi menjadi presiden. Yang terpenting, katanya, gagasan seorang capres sebelum memimpin Indonesia.

"Kita harus tahu itu lebih dulu sebelum memastikan pilihan capres. Dia akan menjalankan rencana A, B, C, D itu timnya siapa? Wakilnya siapa? Cocok enggak? Menterinya siapa?. Kita enggak sampai lima menit di TPS, setelah itu yang menentukan presiden," kata Hasan.

Sumber: kompas.com