Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Sabtu, 13 April 2013

Kisah Penyamaran Basuki Saat Sidak Rusun Marunda

Kisah Penyamaran Basuki Saat Sidak Rusun Marunda
 Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, diwawancara wartawan seusai menerima rombongan dari PT ASKES di Ruang kerjanya, Balaikota, Jakarta Pusat, Kamis (18/10/2012). Pertemuan tersebut membahas asuransi kesehatan bagi warga Jakarta. WARTA KOTA/ANGGA BN

Cerita seputar penyamaran Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama telah lama beredar di kalangan warga penghuni rumah susun sederhana sewa di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Penyamaran itu dilakukan pada suatu sore di bulan Februari 2013 dan masih menjadi perbincangan sampai sekarang.

"Waktu itu, kami sedang antre pendaftaran calon penghuni. Ada ratusan orang di situ. Tidak ada yang sadar kalau di situ ada Pak Ahok (sapaan Basuki, red)," kata Edward Rumambi, penghuni Kluster B Blok 11 Unit 1-10 Rusun Marunda, kepada Kompas.com, Kamis (11/4/2013).

Edward yang kerap disapa Boy menuturkan, saat itu, seorang pria berperawakan tinggi datang dan duduk di warung pecel lele di kompleks rusun. Pria itu mengenakan sandal jepit, memakai topi, dan kacamata hitam. Saat itu, masih terdapat ratusan orang yang berada di sekitar kantor pengelola rusun meskipun kantor itu sudah ditutup pada pukul 17.00 WIB.

"Menurut pedagang pecel lele, orang itu menanyakan ke dia, 'Kenapa tidak tinggal di rusun?'," tutur Boy.

Pedagang itu dengan polosnya mengaku bahwa dirinya belum memiliki cukup uang untuk membayar uang muka penyewaan rusun. Ia lantas menerangkan, beberapa orang yang dikenalinya harus menyetor uang sebanyak Rp 5 juta sampai belasan juta rupiah untuk mendapatkan unit di rusun milik pemerintah itu.

Tak lupa, pedagang itu menyebutkan beberapa oknum yang diketahuinya menawarkan jalur khusus untuk mendapatkan hunian di rusun. Latar belakang status nama-nama itu cukup bervariasi, mulai dari penghuni lama di Kluster A, petugas satpam rusun, hingga staf pengelola.

Wisnu, penghuni rusun, menambahkan, Basuki kemudian mulai menyingkap penyamarannya. Ia lantas membuka topi dan kacamatanya dan berjalan ke arah kantor pengelola untuk menanyakan kepada petugas yang ada. "Waktu dia lepas topi dan kacamatanya, baru kami sadar itu Pak Ahok," ujar Wisnu.

Jaenudin, penghuni Blok 11, juga mengaku terkejut saat menyadari kehadiran sang Wakil Gubernur. Ia tak melihat ada mobil dinas di sekitar lokasi tersebut, apalagi Basuki tampak berjalan seorang diri tanpa didampingi pengawal atau stafnya.

Menurut Jaenudin, ia mendapat informasi bahwa Ahok, sapaan Basuki, turun dari mobilnya di depan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda. "Dari situ, dia naik ojek ke rusun," tambah Jaenudin.

Baik Boy maupun dua rekannya menilai positif apa yang dilakukan Ahok. Menurut mereka, pada masa-masa awal relokasi warga ke rusun, muncul banyak penyelewengan. Boy meyakini banyak perubahan positif yang terjadi setelah Ahok mendengar langsung berbagai penyimpangan yang terjadi. Pemprov DKI pun kemudian melakukan penataan dan bersih-bersih pada jajaran staf pengelola.

"Bahkan, beberapa hari kemudian Pak Wagub datang lagi dan mendobrak pintu unit yang enggak ada penghuninya," kata Boy.

Boy berharap, pengawasan langsung dapat terus dilakukan terhadap pengelolaan rusun. Meskipun saat ini pengelolaan rusun telah berjalan lebih bersih, Boy menduga masih ada penyimpangan yang dilakukan pihak-pihak tertentu.

Sumber: kompas.com