Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Rabu, 01 Mei 2013

Lurah Warakas Juga Suka "Blusukan" seperti Jokowi

Suasana Kelurahan Warakas Jakarta Utara. Pada 1 Mei 2013, Lurah Warakas yang tak mengikuti seleksi terbuka jabatan Lurah itu tidak berkantor. Rencananya, ia akan mengajukan uji materi publik ke Mahkamah Konstitusi.

Sekretaris Kelurahan Warakas Deny Sarifudin menyebut Mulyadi adalah lurah yang dicintai warganya. Sama seperti Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Mulyadi juga sering blusukan menemui warganya.

Untuk membuktikan kinerja Mulyadi yang baik, Deny menawarkan untuk bertanya kepada seluruh warga yang menetap di Warakas. Dia mengklaim kalau warga Warakas mencintai Mulyadi karena sifatnya yang penyayang, pengayom, dan dekat dengan warganya.

"Kalau mau bukti, coba tanya semua warga di sini bagaimana Pak Mulyadi. Beliau itu blusukan hampir setiap saat dan setiap waktu, kok. Pak Mulyadi ini juga terbukti dalam memberantas narkoba. Jadi, mungkin kalau ada warga yang terindikasi ke situ, ya pada takut," kata Deny saat ditemui Kompas.com di Warakas, Jakarta Utara, Rabu (1/5/2013).

Namun, di saat warga Warakas sedang bekerja sama memasang spanduk dukungan kepada Mulyadi, ada satu orang yang hanya duduk di warung sambil menyundut rokoknya dan mengamati aktivitas warga lainnya. Dia adalah Syamsul. Dia ngedumel melihat aksi warga Warakas tersebut.

"Ngapain lurah seperti itu didukung. Sudahlah, dukung dia dicopot saja," cetus Syamsul.

Bahkan, ia mengatakan kalau Mulyadi terpilih karena warga-warga kasihan melihat dia yang sudah lama berkarier politik di daerah itu. Dia juga menolak saat ditawari warga menandatangani spanduk dukungan untuk Mulyadi.

"Cuma orang-orang gila saja yang mau tanda tangan spanduk aneh itu," seru dia seraya meninggalkan lokasi.

Saat ditanyakan kepada warga lainnya terkait ucapan Syamsul, Ketua RT 03/09, Teli, mengatakan, kalau ia bukanlah warga asli Kelurahan Warakas. Syamsul, kata dia, hanya mengontrak rumah di depan Kelurahan Warakas.

Menurutnya, Syamsul jarang berkumpul bersama warga lainnya dan kerap mengonsumsi minuman beralkohol dan juga meyakini semua yang disampaikan Syamsul di bawah pengaruh minuman beralkohol.

Senada dengan Teli, Deny Sarifudin juga menampik anggapan Syamsul. Menurut Deny, hanya Syamsul yang memusuhi Mulyadi di lingkungan itu. Sebab, kata dia, Mulyadi pernah melarang Deny untuk memelihara hewan dan akhirnya berbuntut pada masalah pribadi.

Kisah Mulyadi yang ramai diperbincangkan ini berawal dari sikapnya menolak mengikuti tes seleksi promosi jabatan terbuka lurah atau yang biasa disebut dengan lelang jabatan. Saat proses tes online uji kompetensi bidang pun, ia tak mengikuti ujian tersebut. Ia tidak menyetujui diterapkannya program seleksi terbuka camat dan lurah lewat Peraturan Gubernur No 19 Tahun 2013.

Mulyadi juga telah mengajukan uji materi ke MK karena menurutnya ada yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan yang ada. Menurut Mulyadi, terdapat 80 peserta uji kompetensi dari staf lurah sampai camat yang tidak ikut ujian tersebut pada Sabtu dan Minggu kemarin. Ia pun sudah berkoordinasi untuk menolak proses uji kompetensi tersebut.

Sumber: kompas.com