Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Sabtu, 01 Desember 2012

Basuki yang Melengkapi Jokowi

Basuki yang Melengkapi Jokowi
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (tengah, berkemeja putih) dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama (kanan) dalam rapat bersama PT MRT Jakarta, di Balaikota Jakarta, Rabu (28/11/2012).

Ibarat sebuah tim dalam sepakbola, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjalankan tugas sebagai penyerang yang sibuk blusukan menggedor segudang masalah di Ibu Kota. Sementara wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama menjalankan peran bak seorang kiper, menjaga gawang dan mematahkan semua serangan masalah yang datang silih berganti.

Banyak sudah cerita tentang cara kerja Jokowi yang mengundang decak kagum. Menyentuh masalah langsung dari akarnya, santai tapi tegas, mengobati rindu masyarakat akan pemimpin yang tak elitis. Lantas bagaimana kisah wakilnya yang terkenal dengan panggilan Ahok?

Tak jauh berbeda, sejak dilantik pada 15 Oktober lalu, Basuki juga menyita perhatian banyak pihak. Ciri khasnya adalah gaya bicara yang kerap meledak-ledak namun diimbangi dengan kinerja yang profesional. Setiap hari, sebelum jarum jam duduk di pukul 08.00 pagi, Basuki telah ada di kantornya, Balai Agung, komplek Balaikota Jakarta.

Tak pernah menunggu lama, setumpuk pekerjaan yang terjadwal dan tidak terjadwal langsung dilahapnya bak menu sarapan. Baik itu pertemuan rapat, atau melayani warga Jakarta yang datang mengadukan masalahnya. Ruang kerja Basuki ada di lantai dua  Balai Agung. Ruang kerja dan ruang rapatnya terpisah tapi saling berhadapan. Di kedua ruang inilah Basuki banyak menghabiskan waktunya sebagai wakil gubernur.

Berbeda dengan Jokowi yang selalu berjalan dengan santai, Basuki memiliki gaya yang lebih gesit. Caranya berjalan sama dengan cara dia berbicara, seperti selalu "lapar" ingin segera menemui masalah. Saking gesitnya, Basuki seperti lupa kalau ada lift di sebelah ruang kerjanya. Naik turun gedung selalu ia lakukan dengan menyusuri tangga.

Bumper Jokowi

Saat Jokowi sibuk blusukan, Basukilah yang akhirnya mewakili. Menemui warga yang berunjuk rasa, memimpin rapat dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD), atau menerima tamu dari berbagai elemen.

Misalnya pada 24 Oktober bulan lalu, saat ribuan buruh dari seluruh penjuru Ibu Kota mendatangi Balaikota Jakarta menuntut kenaikan upah dan penghapusan sistem kerja outsourcing. Para buruh mendesak Gubernur DKI Joko Widodo untuk menemui mereka, namun di saat bersamaan Jokowi tengah blusukan ke beberapa pasar di wilayah Jakarta Timur. Saat itulah Basuki menunjukkan wibawanya.

Meski dalam tekanan ribuan buruh, tanpa ragu dirinya menerobos lautan manusia untuk menuju panggung orasi di tengah kerumunan buruh. Basuki mengajak sejumlah perwakilan buruh untuk berdialog di ruang rapatnya.

Belum lagi kebiasaan Basuki di setiap memimpin rapat. Dituntut transparan, suasana dalam rapat selalu diunduh ke dalam Youtube dengan akun Pemprov DKI. Tak sedikit "adegan" yang menampilkan Basuki tengah memarahi para bawahannya. Nampak penuh emosi, namun terbukti efektif melecut bawahannya melayani dan bekerja lebih optimal.

"Itulah kenapa saya nggak mau memegang pistol, karena kalau sedang marah saya mungkin saja bisa menembak orang. Tapi marah saya cepat reda, saya nggak mau stres, nggak mau stroke," kata Basuki.

Tak hanya itu, saat ditinggal Jokowi blusukan, Basuki juga ambil bagian menghadapi masalah-masalah krusial. Contohnya dalam rapat penetapan upah minimum provinsi (UMP) DKI 2013, Basuki harus berkali-kali berhadapan dengan dua pihak yang "berseteru", yakni unsur buruh dan para pengusaha. Meski akhir keputusan ada di tangan Jokowi, Basuki berperan lebih banyak mengawal proses sampai nilai UMP DKI tahun depan diputuskan Rp 2.200.000.

Lainnya, dalam rapat menentukan nasib angkutan massal berbasis rel (mass rapid transit/MRT), Rabu (28/11/2012) lalu. Saat rapat berjalan alot dan mulai memanas, Jokowi memilih untuk meninggalkan ruang rapat dengan alasan ingin menemui warga di Cilincing, Jakarta Utara. Kembali, Basuki harus mengambil alih, menengahi pro kontra pembangunan MRT.

Waktu pribadinya

Segudang kesibukan itu akhirnya membawa dampak pada kehidupan pribadi Basuki. Setiap hari ia mengaku bangun dari tidur di pukul 04.00 WIB. Waktu luangnya ia manfaatkan untuk berolahraga, entah itu jogging, senam jantung, atau olahraga lain untuk menjaga stamina dan kebugarannya. Minimal 30 menit di setiap harinya.

Pagi hari adalah waktu berharga Basuki untuk bertemu seluruh keluarganya, karena Basuki biasa kembali ke rumah sekitar pukul 22.00 WIB. Terkadang tak sempat bertemu dengan ketiga anaknya karena sudah tertidur.

Mengenai hobi, Basuki memiliki kegemaran membaca buku. Khususnya buku-buku yang memiliki konten filosofis. Saat sibuk, ada seseorang yang membantunya dengan membuat tanda warna (stabillo) di penggalan penting dalam buku-bukunya.

"Tiap pagi saya masih suka baca kok, tapi sekarang sudah nggak bisa banyak-banyak," ujarnya.

Kontroversi Basuki

Satu hal yang melekat dari sosok Basuki adalah pribadinya yang kontroversial. Ia seperti tak memiliki takut melontarkan pernyataan yang bombastis. Meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memeriksa urine seluruh PNS, mengusulkan kenaikan gaji PNS, dan menilai banyak PNS di Jakarta yang kerja tak sesuai kompetensinya.

Dalam rapat bersama DPD RI, Kamis (29/11/2012) kemarin, Basuki tegas mengatakan bahwa status wajar tanpa pengecualian (WTP) bukanlah segalanya. Karena baginya menjamin kesejahteraan rakyat adalah yang utama, lebih dari sekadar status WTP sebagai esensi dari sebuah kinerja.

"WTP itu gampang, kerja saja yang benar pasti dapat status WTP. Tapi buat apa WTP kalau rakyat tak sejahtera atau kita dipenjara," katanya.

Saat ini, popularitas Basuki mengimbangi Jokowi. Bahkan sebuah stasiun televisi internasional (Al-Jazeera) sempat menayangkan berita Basuki saat memimpin rapat yang diunduh dari Youtube. Meski demikian, Basuki tetap patuh dan menghormati Jokowi, koordinasi tak pernah putus, menjadi sepasang pemimpin pro rakyat yang saling melengkapi.

Sumber : kompas.com