Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Rabu, 21 November 2012

Jokowi Persilakan Tiang Monorel Dipasang Iklan

Jokowi Persilakan Tiang Monorel Dipasang Iklan
Warga melintas di samping deretan tiang-tiang monorel yang mangkrak di Jalan HR. Rasuna Said, Jakarta

Tiang pancang monorel, khususnya di Jalan HR Rasuna Said dan sepanjang Jalan Asia Afrika, terlihat lebih semarak dengan terpasangnya iklan komersial. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pun tidak mempermasalahkan hal itu.


"Saat ini, ya enggak apa-apa dipakai untuk iklan," kata Jokowi di Balaikota DKI, Jakarta, Rabu (21/11/2012).

Namun, Jokowi optimistis proyek monorel itu sebentar lagi akan berjalan sehingga tiang pancang itu akan digunakan sesuai dengan fungsinya.

"Sebentar lagi juga akan dipakai oleh monorelnya," kata Jokowi.

Jokowi dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama, memang berkomitmen untuk melanjutkan proyek lama yang telah lama menganggur itu. Basuki sebelumnya telah bertemu dengan pihak PT Adhi Karya, PT LEN (Lembaga Elektronika Nasional), PT INKA (Industri Kereta Api), PT Telkom, dan Dinas Perhubungan DKI untuk melanjutkan proyek monorel.

Selanjutnya, ia menargetkan sampai tiga tahun ke depan proyek monorel sudah bisa dirasakan oleh masyarakat Jakarta. Megaproyek ini memiliki nilai investasi sebesar Rp 12 triliun.

"Nilai investasi proyek ini untuk sebanyak tiga jalur kurang lebih sebesar Rp 12 triliun," kata Direktur Utama PT Adhi Karya Kiswodarmawan.

Kiswo menjelaskan, megaproyek itu akan menggunakan konsep yang secara keseluruhan menggunakan produk dalam negeri, misalnya, kereta produksi PT INKA, sistem dari PT LEN, komunikasi produk PT Telkom, dan konstruksi dari PT Adhi Karya.

Kiswo juga mengatakan akan tetap melanjutkan pembangunan dari tiang pancang yang sudah "menganggur", contohnya tiang yang berada di daerah Senayan, Jakarta Selatan.

"Kita usahakan sebagian besar terpakai. Belum tentu semuanya tergantung proposal jalur yang ada nanti. Jalur akan disusun bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dan Dinas Perhubungan DKI," kata Kiswo.

PT Adhi Karya selama tiga bulan ini akan mengkaji megaproyek monorel bersama dengan Pemprov DKI. Mereka juga mengusulkan ikut berpartisipasi dalam memecahkan kemacetan yang terjadi di Jakarta dalam bentuk partisipasi.

"Tetapi, tetap terbungkus dalam kalkulasi bisnis. Makanya, kami PT, tetapi bukan bisnis banget, tetap mendengar masyarakat mampu dan bisa terlayani," katanya.

Sebelumnya, PT Adhi Karya memang sudah bergabung dengan PT Jakarta monorel untuk membangun proyek monorel. Perseroan memiliki 7,5 persen saham di PT Jakarta monorel. Namun, karena proyeknya mangkrak dan dana investor tidak cair, perseroan memilih untuk hengkang di proyek kerja sama itu.

Sumber: kompas.com