Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Senin, 02 September 2013

Jokowi yang Serba Betawi

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat membuka lebaran betawi, di Silang Monas, Jakarta, Minggu (1/9/2013).

Walaupun bukan seorang warga asli Betawi, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menunjukkan rasa cintanya kepada budaya Betawi. Hal itu ia tunjukkan ketika membuka dan menghadiri Lebaran Betawi, di Silang Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (1/9/2013).

Bersama rombongannya, Jokowi tiba di area sekitar pukul 10.00 WIB. From head to toe Jokowi tampil dengan busana adat Betawi. Mulai dari peci, baju tradisional khas betawi ujung serong dan kain sarung betawi menambah menarik penampilan Jokowi.

Kehadiran Jokowi di acara itu menarik perhatian ratusan pengunjung yang memadati Monas pagi itu. Ondel-ondel pun mengiringi kedatangan Jokowi. Sebelum memasuki area Lebaran Betawi, Jokowi "dihadang" oleh beberapa pendekar yang melaksanakan tradisi palang pintu. Para pendekar itu kemudian saling bersahut pantun dan langsung beraksi memamerkan jurus-jurus silat mereka.

Setelah diterima oleh pendekar palang pintu, Jokowi kemudian duduk bersama pimpinan Bamus Betawi, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Edi Nalapraya dan tokoh agama, Tuti Alawiyah. Di sebuah panggung yang bernuansa betawi itu, penyampaian sambutan Jokowi berbeda dari lainnya. Ia kembali menggunakan bahasa betawi dalam menyampaikan sambutannya. Hal itu pernah juga ia lakukan saat Ulang Tahun Jakarta, 22 Juni 2013 lalu. Seperti biasa ia memulainya dengan pantun betawi.

"Beli jahe tambah merice, bikin manisan pake kapulage, ati aye amatlah bahagie, rayain lebaran ame warge," kata Jokowi dalam sambutannya.

Suasana silang Monas menjadi tambah cair ketika Jokowi melemparkan pantunnya. Para pengunjung yang sebagian besar adalah ibu-ibu mulai mendekati podium tempat Jokowi menyampaikan sambutannya. Tak hanya berpantun Betawi, sambutan Jokowi juga disampaikan dalam bahasa Betawi. Walaupun terbata-bata, akhirnya Jokowi dapat menyelesaikan penyampaian sambutannya itu.

"Enyak, babe, encang, encing, abang, empok, dan hadirin yang saya hormatin, dalem pandangan saye, hakekat Lebaran Betawi ialah kepatutan nyang soheh, makjana komunikasi, dan silaturahmi masyarakat Jakarta yang berkelar-kelir," kata Jokowi.

"Sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta, saye mau pesen, nyok kita rawat dan jaga tradisi baik dalam masyarakat budaya Betawi. Lebaran Betawi kudu dijadiin tempat belajar bagi generasi muda dan siapa aja nyang pengen tahu dan ungkapin apresiasi terhadap seni budaya Betawi," lanjutnya.

Seusai menyampaikan sambutannya, Jokowi kemudian diarak menuju panggung lainnya untuk menerima hantaran dari para wali kota dan bupati. Bupati Kepulauan Seribu Asep Syarifudin beserta rombongan membawa hantaran berupa keripik sukun, udang bengkok, dan rajungan. Berturut-turut Wali kota Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat memberikan hantaran mereka kepada Jokowi. Mulai dari kue cucur, asinan betawi, kue pepe, aloe vera, kue semprong, dodol betawi, bandeng presto, semur jengkol, hingga roti buaya. Jokowi menerima semua hantaran itu.

Tak berhenti sampai di situ, Jokowi berkeliling melihat kebudayaan Betawi masing-masing stand lima wilayah dan kabupaten Ibu Kota. Mantan Wali Kota Surakarta itu harus berada dengan panas terik dan warga yang mengerubutinya. Ia pun tampak kesulitan untuk berjalan dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Perlu penjagaan beberapa pihak untuk dapat menjaga orang nomor satu di Ibu Kota itu. Kemana Jokowi melangkah, disitulah warga selalu mengikuti gerak-geriknya. Para awak media pun kesulitan untuk dapat mendekati Jokowi.

Momen berharga

Jokowi mengaku terkejut mengetahui banyaknya makanan tradisional khas Betawi yang dihantarkan kepadanya saat membuka lebaran betawi. Melalui acara seperti lebaran betawi, kata dia, banyak masyarakat yang jadi mengerti masih banyak makanan-makanan khas Betawi yang tidak diketahui sebelumnya.

Acara seperti lebaran betawi merupakan kekuatan karakter dan identitas sebuah kota. Ia pun tidak mau Jakarta sampai kalah dan ketinggalan dengan kota lainnya di Indonesia yang juga mengangkat nilai kebudayaan mereka. Jokowi kemudian berpesan kepada lima wali kota dan bupati untuk melestarikan makanan maupun budaya khas wilayah mereka masing-masing.

"Oleh sebab itu, tahun depan mulai dirancang mungkin dua, tiga, atau seminggu, acara ini diselenggarakan untuk pengenalan budaya betawi sebagai karakter dan identitas kota," kata Jokowi.

Dalam acara itu, kata Jokowi, akan melibatkan lebih banyak anak muda dan remaja. Dengan cara itu, Jokowi berharap akan banyak menumbuhkan bibit dan generasi baru yang melestarikan budaya Betawi. Tak hanya makanan, tapi juga melestarikan pakaian adat betawi, kebudayaan betawi, dan senjata khas betawi.

Sebagai titik awal pelestarian budaya Betawi itu, Jokowi akan menyelenggarakan Jakarta Night Market di sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan pada Oktober 2013. Pasar malam itu akan diselenggarakan tiap malam minggu atau Sabtu malam dan didominasi dengan panganan khas Betawi.

Sumber: kompas.com