Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Senin, 13 Mei 2013

Kisah Basuki tentang Kepala Dinas Dihadang Golok di Muara Baru

Kisah Basuki tentang Kepala Dinas Dihadang Golok di Muara Baru Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (ketiga kiri), berkunjung ke Redaksi Harian Kompas untuk bersilaturahim sekaligus menyosialisasikan program kerja Kantor Harian Kompas di Palmerah, Jakarta, Jumat (10/5/2013). Basuki diterima langsung oleh Pemimpin Umum Harian kompas, Jakob Oetama (keempat kiri), yang didampingi CEO Kompas Gramedia, Agung Adiprasetyo (kanan), Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bagun (kedua kanan), dan jajaran pimpinan Kompas lainnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku telah melakukan upaya persuasif untuk melakukan pendekatan kepada warga terkait kebijakan Pemprov DKI. Misalnya ke Waduk Pluit, ke Rusun Muara Baru, dan Rusun Marunda. Namun, para pemain di tiap-tiap kawasan tersebut menghasut warga untuk menolak kebijakan Pemprov.

Basuki mencontohkan saat Kepala Dinas Perumahan berkunjung ke Rusun Muara Baru, Jakarta Utara. Saat itu, kata dia, mereka dihadang oleh orang yang membawa golok, yang menolak mengosongkan tempat tersebut.

"Saya tidak mau pergi, Pak. Kalau saya pergi, saya tahu bakal berantem. Kamu bawa golok, kamu enggak mabok, kamu juga pasti takut mati. Ya hitung-hitungan aja pernya takutan siapa. Sama-sama takut mati, kan. Makanya saya putuskan saya tidak mau pergi, saya tahu saya emosional," kata Basuki saat bertemu dengan Jakob Oetoma di kantor Kompas, Jumat (10/5/2013).

Basuki juga menceritakan tentang stafnya yang mendata rumah kosong di Rusun Muara Baru. Menurutnya, mereka mendapat sambutan yang juga tidak mengenakkan.

"Karena dia orang Batak beragama Kristen, provokatornya langsung bilang, teriak yang enggak masuk akal. Ini Kristenisasi... ini Kristenisasi, ini mau bangun gereja. Padahal dia mau ngecek mana yang kosong," tutur Basuki.

"Untung dia bawa staf ada yang pake kerudung, ada tiga-empat orang. Itu kejadian, itu kita lapor ke Polres," ucap pria yang akrab disapa Ahok itu.

Dia juga menceritakan adanya pengusaha besar di Waduk Pluit yang hampir menguasai 2 hektar tanah di kawasan tersebut. Dia membuat gudang besar, kantor besar, dan menyimpan alat besar di tempatnya itu.

Pengusaha itu, kata Basuki, menolak untuk mengosongkan tempatnya. Dia sampai mendatangi rumah Basuki, bersama dengan pamannya (paman Basuki), agar minta tidak digusur.

"Saya bilang enggak bisa. Bangunan enggak ada izin, tempat tinggal enggak ada izin harus dibongkar. Dia pake preman-preman untuk jaga. Ya sudah, saya minta kita juga pake cara-cara agak kasar juga, kirim aja Brimob," ungkap mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

"Saya bilang ya sudah, enggak usah datang-datang ke sini. Oom saya juga kalau datang enggak usah kasih masuk, saya minta ke penjaga saya, ngapain kalau dia cuma mau ngurus-ngurus begini."

"Orang jadi enggak suka, tapi ini risiko, enggak ada pilihan. Dia itu yang membiayai tempel-tempel bendera spanduk, pengusaha itu."

Disebut Basuki, sesungguhnya warga sekitar bersedia tinggal di rusun. Namun pengusaha-pengusaha tersebut yang menolak.

Basuki juga menjelaskan bahwa dia tidak menuding warga di sekitar Waduk Pluit sebagai komunis. Namun, cara mereka meminta lahan milik negara dan menjarahnya sebagai cara komunis.

Sumber: kompas.com