Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Selasa, 04 Maret 2014

Alasan Mengapa Jokowi Diidamkan Masyarakat


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (tengah) bersama pegiat sepeda berhenti saat lampu merah di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (28/2/2014). Bersepeda menuju tempat kerja setiap Jumat menjadi ciri khas Jokowi sejak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sosok Joko Widodo selalu berada di puncak berbagai survei capres. Sikapnya yang mau dekat dengan rakyat dinilai sebagai penyebab masyarakat menginginkannya memimpin Indonesia.

Direktur Riset Media Survei Nasional (Median) Sudarto mengatakan, masyarakat saat ini lebih melihat pada ketokohan daripada partai politik. Jokowi, dekat dengan masyarakat tidak hanya saat menjelang pemilu, berbeda dengan tokoh lainnya.

"Masyarakat jengah dengan pemimpin bangsa yang cenderung berwibawa menjaga sikapnya dengan publik," kata Sudarto, dalam konferensi pers yang digelar di Bumbu Desa, Jakarta, Selasa (4/3/2014).

Sosok yang merakyat, dekat dengan masyarakat, dan memiliki penampilan seperti masyarakat kecil pada umumnya, merupakan pemimpin yang diidamkan masyarakat. Sosok tersebut, kata Sudarto, ada pada dalam diri Gubernur DKI Jakarta itu.

Meskipun kinerja Jokowi selama 17 bulan belum tampak secara maksimal, menurutnya, masyarakat tidak terlalu peduli pada hal tersebut. Masyarakat Indonesia, kata dia lagi, kini lebih memandang sikap dan ketokohan, daripada kinerja yang dihasilkan.

"Pemimpin yang suka blusukan turun melihat keadaan masyarakat, jadi idaman masyarakat Indonesia. Tingkat pemilih masyarakat dengan dasar attitude masih cukup tinggi," kata Sudarto.

Meskipun banjir dan macet masih belum dapat terselesaikan oleh Jokowi, masih banyak masyarakat yang menaruh harapan majunya bangsa Indonesia kepadanya. Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan Median.

Median melakukan survei dengan dua tahap, yakni tahap nontreatment dan treatment. Sebanyak 1.500 responden mengikuti survei ini. Melalui tahap nontreatment, atau dengan hanya menanyakan siapa tokoh yang pantas menjadi Presiden, Jokowi mengungguli tokoh-tokoh lainnya. Ia memperoleh 30,1 persen. Disusul oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sebesar 18,00 persen dan Ketua Umum Partai Golkar sebesar 10,00 persen.

Kemudian, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menduduki posisi empat dengan 8,3 persen dan Ketua Umum Partai Hanura dengan 7,3 persen.

Selanjutnya, pertanyaan masuk tahap treatment, atau bertanya dengan mengungkit permasalahan di Jakarta yang belum terselesaikan, seperti banjir dan macet. Elektabilitas Jokowi menurun menjadi 15,3 persen. Posisi Jokowi berada di bawah Prabowo yang memperoleh 20 persen dan Megawati yang dipilih 16,00 persen responden. Hal itu menunjukkan, masih banyak pemilih yang tidak melihat Jokowi dari sisi kinerjanya.

"Sekarang, Jokowi menjadi media darling dengan berbagai berita positifnya. Kalau informasi yang disampaikan berbeda dan berimbang, masyarakat Jakarta juga akan merasakan kinerja (Jokowi) belum maksimal," kata Sudarto.

Median melakukan survei ini sepanjang 28 Januari-15 Februari 2014. Sebanyak 1.500 responden dibagi menjadi 750 responden non-treatment dan 750 responden dengan treatment. Metode yang digunakan yakni multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan jender di 33 provinsi. Median mengklaim, margin of error survei ini 2,57 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sumber: kompas.com