Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Jumat, 13 September 2013

Jokowi: Bukan Jam Malam, Tapi Jam Wajib Belajar


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (tengah) menunjuk salah satu siswa SMPN 108, Cengkareng, Jakarta Barat, untuk mendapatkan pertanyaan dan hadiah bila terjawab dengan tepat, Kamis (25/4/2013). Jokowi berkunjung ke SMPN 108 untuk bersilaturahmi dan memberikan pengarahan usai siswa menjalani Ujian Nasional (UN).

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, kebijakan yang tengah dikaji oleh Pemerintah Provinsi DKI bukanlah pemberlakuan jam malam bagi anak. Yang dikaji itu adalah jam wajib belajar bagi anak-anak di Jakarta.

"Siapa yang ngomong jam malam? Bukan jam malam, tapi jam wajib belajar. Kayak di mana saja pakai jam malam, jam malam," kata Jokowi kepada wartawan di Balaikota Jakarta, Jumat (13/9/2013).

Meski demikian, Jokowi belum memutuskan apakah pemberlakuan jam wajib belajar tersebut akan dituangkan dalam peraturan gubernur atau sosialisasi dari Dinas Pendidikan. Kajian Pemprov DKI akan dikonsultasikan kepada semua pihak yang berkepentingan, termasuk orangtua siswa, komite sekolah, dan guru.

Secara umum, jam wajib belajar anak itu dapat diartikan bahwa pada jam-jam tertentu, anak-anak di Jakarta tidak diperkenankan melakukan aktivitas selain belajar. Namun, Jokowi belum bisa menjelaskannya lebih teknis karena kebijakan itu masih dalam kajian. "Misalnya, jam 18.30 harus belajar," ujar Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyatakan prihatin atas kondisi anak-anak di Jakarta. Meski telah larut malam, masih banyak anak-anak yang nongkrong di pusat perbelanjaan atau tempat kumpul lainnya. "Untuk mahasiswa sih enggak ada masalah. Kalau SMP, SMA, belajar adalah yang utama," katanya.

Sumber: kompas.com

Harga Kemeja "Blusukan" Jokowi Hanya Rp 43.000


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat memantau Waduk Ria Rio, Jakarta Timur.

Kemeja putih lengan panjang adalah kostum yang selalu digunakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat blusukan ke kampung-kampung. Tak banyak yang tahu, ternyata "harganya" hanya Rp 43.000.

Meski menjadi orang nomor satu di Jakarta, Jokowi tidak tergiur membeli kemeja mahal hingga ratusan ribu atau jutaan rupiah. Dia hanya membeli bahan kemeja di beberapa pasar di Solo ataupun di Jakarta, kemudian diserahkannya kepada penjahit langganannya untuk dijadikan kemeja.

Kain seharga Rp 25.000 ditambah ongkos menjahit seharga Rp 17.000 saja sudah cukup baginya mendapatkan kemeja putih yang khas saat blusukan.

"Bisa murah jahitnya karena banyak sekalian. Ndak sampai Rp 50.000 toh," ucap dia sambil tersenyum, saat diwawancara wartawan pada Jumat (13/9/2013).

Jokowi mengaku memiliki empat belas kemeja serupa di lemari pribadinya. Desain kemeja putih tersebut, kata dia, tidak mencontoh siapa-siapa.

Menurutnya, kemeja tersebut merupakan salah satu simbol kedekatannya dengan rakyat. Tentu berbeda jika ia blusukan mengenakan jas atau batik, seperti para pejabat negara kebanyakan.

"Kalau pakai baju ini lebih dekat dengan warga. Ini kan sama yang kayak dipakai masyarakat, jadi sama saja saya sama masyarakat," ucapnya.

Sumber: kompas.com

Kamis, 12 September 2013

Jokowi Sarankan Orangtua Ajak Anak Hidup Prihatin


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berjalan di tepi Waduk Ria Rio di Kampung Pedongkelan, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (11/9/2013).

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo prihatin terhadap kondisi anak-anak zaman sekarang yang suka hidup bermewah-mewah. Menurut Jokowi, seharusnya orangtua memupuk nilai-nilai pendidikan agar anak terlatih hidup mandiri.

"Orangtua ajarin anaknya prihatinlah. Punya daya juang yang tinggi, punya ketahanan menyelesaikan kehidupannya," ujarnya kepada wartawan di Balaikota Jakarta, Kamis (12/9/2013) siang.

Salah satu hal yang tampak dalam kehidupannya sehari-hari adalah penggunaan sejumlah fasilitas yang dianggap tidak sesuai dengan usia anak, misalnya kendaraan bermotor. Untuk menghindari hal itu, kata Jokowi, pemerintah punya peran untuk menyediakan sarana angkutan umum yang nyaman untuk pelajar. Saat ini, Jokowi tengah menunggu kedatangan bus sekolah. Pemerintah Provinsi DKI juga menyiapkan 3.000 bus ukuran sedang dan 1.000 bus transjakarta yang akan beroperasi pada akhir 2013 dan awal 2014.

"Terus terang kita memang masih belum siap untuk memberikan kenyamanan yang baik. Nanti kalau bus sudah datang, baru kita bicara," ujarnya.

Tidak hanya pengadaan bus sekolah, Jokowi pun akan mempertimbangkan pemberlakuan jam malam kepada anak di Jakarta. Pemprov DKI mengkaji apakah jam malam tersebut akan dituangkan dalam bentuk peraturan daerah atau cukup sosialisasi dari dinas pendidikan.

Pemberlakuan jam malam bagi anak mencuat setelah kasus kecelakaan di Tol Jagorawi, beberapa waktu lalu. AQJ atau Dul (13), putra artis Ahmad Dhani dan Maia Estianty, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi pada tengah malam hingga mobilnya menabrak pembatas jalan dan dua mobil. Enam orang tewas dalam kejadian tersebut.

Sumber: kompas.com


Basuki: Pimpin Jakarta Hanya Butuh Asah Otot, Saraf, dan Jantung


Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat berfoto seusai acara peringatan ulang tahun ke-10 rumah susun Budha Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (8/9/2013).

Memimpin Jakarta, kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, tidak perlu lagi mengasah otak. Sebab, pejabat di jajaran Pemprov DKI Jakarta sudah banyak yang cerdas.

"Yang dibutuhkan itu mengasah otot. Otot saraf, otot jantung, supaya enggak deg-degan," kata Basuki saat menjawab pertanyaan dari siswa SD Manahaim di Balai Agung, Balaikota Jakarta, Kamis (12/9/2013).

Di Jakarta, tutur Basuki, ia mendapatkan banyak orang yang melanggar peraturan, terutama peraturan daerah. Misalnya saja, para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan hingga ke tengah jalan ataupun yang mendirikan bangunan di atas waduk hingga ruang terbuka hijau.

Karakteristik masyarakat Ibu Kota, kata Basuki, tak sedikit yang ngeyel dan membela diri. Padahal, mereka melanggar aturan yang berlaku. Misalnya saja, mereka kerap membuang sampah sembarangan, menduduki trotoar untuk berjualan, menyewakan bangunan di atas waduk, mencuri listrik, dan sebagainya.

"Makanya, saya tadi bilang, di Jakarta tidak butuh melatih otak, cuma butuh melatih otot, jantung, saraf, agar tidak deg-degan menghadapi mereka, hahaha," katanya seraya tertawa.

Tak hanya itu, mantan Bupati Belitung Timur itu menilai, orang-orang yang datang ke Jakarta merupakan orang yang nekat-nekat. Orang yang tidak nekat dan tidak memiliki ambisi, kata dia, tidak akan mau untuk mengadu nasib di Jakarta.

Basuki mengambil contoh warga Belitung Timur. Menurut dia, tak banyak dari mereka yang mau untuk ke Jakarta. Sebab, suasana di kampung jauh lebih nyaman daripada menetap di Jakarta.

Dalam pertemuannya dengan puluhan siswa SD itu, Basuki juga memberi kesempatan mereka untuk berkunjung ke ruangannya dan berfoto bersamanya.

Sumber: kompas.com