Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Kamis, 07 Februari 2013

Muncul gerakan di Facebook memaksa Jokowi nyapres 2014

Muncul gerakan di Facebook memaksa Jokowi nyapres 2014
Joko Widodo. ©2012 Merdeka.com/Imam Buhori

Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) kembali dikait-kaitkan calon presiden. Bahkan, ada sebagian orang yang sengaja membuat gerakan memaksa Jokowi agar mencalonkan diri menjadi presiden.

Gerakan itu muncul di Facebook dengan nama 'Gerakan Memaksa Jokowi untuk Siap jadi Capres 2014'. Grup ini baru dibuat pada 2 Februari 2013.

Lima hari setelah dibuat grup itu, sudah ada 65 orang yang menyukai grup ini. Di dalam grup juga ditulis alasan mengapa memaksa Jokowi.

"Terlalu Lama menunggu sampai tahun 2019, apabila Jokowi baru akan Siap menjadi Capres 2019. Sebaiknya mulai saat ini kita Paksa Jokowi untuk SIAP Menjadi Capres 2014 untuk Mempercepat Perbaikan Negeri Ini dan Menjadikan Indonesia Baru"

Dalam berbagai kesempatan, Jokowi sudah mengatakan ingin fokus menjadi gubernur sampai masa jabatannya selesai. Ia sekarang tidak tertarik menjadi presiden.

Sementara dalam berbagai survei, nama Jokowi selalu unggul jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain seperti Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto.

Seperti dalam survei Tim Pusat Data Bersatu (PDB) pimpinan Didik J Rachbini. Survei menunjukkan Joko Widodo sebagai capres dengan tingkat elektabilitas tertinggi. Sebanyak 21,2 persen responden memilih Jokowi dikuntit Prabowo dengan 17,1 persen.

Urutan ketiga diduduki Megawati dengan 11,5 persen disusul Rhoma Irama 10,4 persen. Sedangkan Aburizal Bakrie 9,7 persen, kemudian Jusuf kalla 7,1 persen dan disusul nama-nama lain seperti Mahfud MD, Wiranto, dan Dahlan Iskan.

Dari 13 nama yang dipamerkan sebagai tokoh potensial capres 2014, Jokowi tetap menduduki urutan pertama dengan 21,2 persen. "Prabowo 18,4 persen, Megawati 13,0 persen, Rhoma 10,4 persen, Aburizal Bakrie 9,3 persen, Jusuf Kalla 7,8 persen, dan Wiranto 3,5 persen," jelas Didik J Rachbini di Jakarta, Rabu (6/2).

Sumber : merdeka.com

Cerita mereka yang kapok kritik Jokowi

Cerita mereka yang kapok kritik Jokowi
Jokowi Blusukan. ©2013 Merdeka.com/muhammad sholeh

Ini cerita tentang sosok yang kerap mengkritik Jokowi. Mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, kini enggan mengkritik Jokowi. Rupanya dia jadi bulan-bulanan pendukung Jokowi.

Bang Yos dulu kerap mengkritik Jokowi. Terutama soal gaya blusukan yang disebut Bang Yos bukan tindakan nyata. "Keadaan rakyatnya seperti apa kan sudah tahu. Jadi tak perlu lah action-action (blusukan) seperti itu," kata Bang Yos usai menghadiri acara milad Muhammadiyah di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Minggu (18/11).

Kini, Bang Yos tak mau lagi mengkritik Jokowi. "Enggak ah, sudah capek aku kritisi Jakarta," kata Bang Yos di Kantor PKPI, Jakarta, Rabu (6/2).

Bukan tanpa sebab Bang Yos enggan untuk mengomentari kebijakan-kebijakan yang diambil Jokowi. Dirinya mengaku diserang dan dimaki habis-habisan oleh fans pendukung Jokowi. "Saya diserang habis-habisan sama pendukung Jokowi," ungkap Bang Yos.

Tak cuma Bang Yos yang tak lagi mengkritik Jokowi. Ada juga Rhoma Irama.

Dulu, sebelum Pilgub DKI, Rhoma Irama gencar mengkritik Jokowi. Tapi kini, Rhoma kian sering melayangkan pujian untuk Jokowi.

"Jokowi salah satu putra terbaik bangsa tentu bisa membangun jakarta lebih baik," jelas Rhoma, Selasa (8/1).

Dia mengaku mendukung penuh program-program yang telah dilakukan oleh Jokowi, termasuk aksi blusukan yang sering kali menjadi sorotan media.

"Bagus dia bisa merasakan denyut kehidupan di bawah," imbuhnya.

Rhoma juga mendoakan agar warga Jakarta di bawah kepemimpinan Jokowi bisa lebih sejahtera. "Kita doakan agar jakarta lebih baik, saya dukung kepemimpinan jokowi," tegasnya.

Dalam kesempatan ini pula, Rhoma menjelaskan bahwa tidak ada sama sekali terjadi konflik antara dirinya dengan Jokowi. "Saya tidak pernah berseteru dengan Jokowi termasuk Ahok, jadi ini perlu diluruskan, kemarin yang terjadi pemelintiran isu," tandasnya.

Jokowi sendiri sebenarnya tidak antikritik. Kritikan itu dianggap Jokowi sebagai sebuah masukan.

Sebab, dari kritikan tersebut Jokowi mengaku dapat mengetahui persoalan selama ini. Itu juga yang disampaikan Jokowi saat menerima kritik dari Komisi V DPR.

"Bagus semua masukannya tadi. Pertemuan seperti ini tidak hanya sekali tiga kali, jangan diulang-ulang, harus kerja kongkretnya apa, hulu kerja apa, hilir apa, Dewan mengontrol. Itu baru selesai," kata Jokowi.

Jokowi juga enggan dikuntit media karena takut, blusukannya justru dikira orang pencitraan. "Sudahlah mbok saya jangan diikuti terus, nanti dikira pencitraan. Biarkan saya bebas menemui warga. Biar masyarakat yang menilai kalau ada realitas apakah itu pencitraan atau bukan," tutup Jokowi.

Sumber: merdeka.com

Jakarta banjir lagi, apa kabar rekayasa hujan Jokowi?

Jakarta banjir lagi, apa kabar rekayasa hujan Jokowi?
genangan air. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Jakarta kembali dilanda hujan besar pada Rabu (6/2) sore kemarin. Curah hujan mulai dari sedang hingga tinggi. Durasi hujan mencapai dua jam lebih.

Hujan kali ini terbilang cukup deras setelah Jakarta banjir pada Januari lalu. Terbukti dari kembali tergenangnya ruas Jl Sudirman-MH Thamrin, dan underpass Casablanca.

Pasca-banjir bulan lalu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meminta bantuan BNPB, BPBD serta BMKG melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Teknologi ini bertujuan untuk mengurai gumpalan awan tebal sehingga hujan deras tidak hanya mengguyur di satu titik.

Melihat hujan kemarin, apakah modifikasi cuaca atas permintaan Jokowi mengalami kendala?

Menurut Ketua BPBD DKI Jakarta, Arfan Arkilie, hujan yang mengguyur Jakarta kemarin sore itu relatif wajar. Dari durasi hujan kurang lebih 3 jam, hanya sekitar 30 menit intensitas hujan yang deras.

"Kemarin hanya 30 menit saja yang derasnya yaitu mencapai 51 milimeter kubik. Selebihnya intensitasnya lebih ringan," kata Arfan kepada merdeka.com, Kamis (7/2).

Arfan menjelaskan, hal yang wajar jika suatu hari Jakarta tetap dilanda hujan. Toh, teknologi modifikasi cuaca yang dilakukan bukan untuk memindahkan seratus persen hujan ke daerah lain.

"Hujan tetap tapi dengan diurainya awan tebal itu, curahnya jadi tidak terlalu deras. Tidak mungkinlah sama sekali tidak hujan, karena kita kan butuh air juga, tanah butuh basah juga. Jadi gak langsung kering gitu, karena air hujan itu banyak manfaatnya," jelasnya.

Modifikasi ini mulai diterapkan 26 Januari lalu. Dan sesuai peringatan BMKG kelembapan masih akan tinggi di bulan Februari ini, maka modifikasi cuaca akan terus dilakukan sampai awal Maret mendatang.

Arfan meyakinkan kalau modifikasi cuaca yang berjalan ini lancar tanpa kendala. Kalau pun hujan tetap turun deras, itu hal yang wajar karena dari segi intensitasnya berkurang.

"Jadi rekayasa ini kita lakukan di Jakarta, Banten dan Bogor. Yang gawat itu kalau setelah dimodifikasi tapi hujan deras terjadi selama satu jam. Dan kemarin kan tidak," tegas Arfan.

Dia berharap semua pihak tidak pesimis dengan penerapan teknologi ini. Atau pun berucap Jokowi tak bisa melawan kehendak alam. Sebab, memang penerapan teknologi bukan sama menahan air hujan agar tidak turun.

"Positif thinking-lah. Jangan terlalu panik, ini juga pernah kok diterapkan sebelum-sebelumnya. Karena ini kan salah satu upaya untuk mengendalikan banjir di Jakarta, menjadikan yang lebat jadi setengah lebat," ucapnya.

Kalau pun hujan setengah jam Jakarta sudah banjir, Arfan menegaskan itulah yang perlu diperhatikan pemerintah daerah.

"Tentu itu karena drainase yang buruk, atau kali-kali yang tidak optimal," ungkap Arfan.

Sumber: merdeka.com

Jokowi: Dihadiahi banjir besar, berkah buat saya

Jokowi: Dihadiahi banjir besar, berkah buat saya
banjir bundaran hi. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Banjir yang melanda Ibu Kota merupakan berkah tersendiri bagi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Sebab, persoalan banjir membuatnya mengerti waduk dan sungai mana yang harus diperbaiki.

"Saya datang ke Jakarta langsung dihadiahi banjir besar. Tapi itu saya lihat jadi berkah, karena saya tahu betul sisi mana yang harus diperbaiki, waduk mana yang harus dinormalisasi dan gorong-gorong mana yang harus diperlebar. Itu semua jadi terungkap," ujar Jokowi dalam sebuah acara diskusi dengan broker di Palmerah Barat Jakarta, Kamis (7/2).

Mantan wali kota Solo itu mengatakan, saat ada genangan yang tinggi di seputaran Bundaran HI, dia langsung berpikir kenapa jalan protokol yang lebar harus ada genangan tinggi. Pasalnya, untuk jalan-jalan besar seperti Sudirman-Thamrin memiliki drainase yang dapat menampung volume air cukup besar atau sekitar 4-5 meter.

Lantas, dia membandingkan dengan drainase di Solo yang ada sejak zaman Belanda dapat menampung air hujan banyak, padahal hanya memiliki kedalaman 3 meter.

"Kemudian saya buka 3 pintu dan masuk ke gorong-gorong itu (HI) dan ternyata 60 centimeter doang. Nah itu benar makanya kenapa tergenang," katanya.

Selain itu, banyak juga gorong-gorong yang tertutup secara sengaja. Hal seperti itu, dianggapnya sebagai persoalan besar jika tidak dikerjakan sejak awal.

"Kalau banjir itu nggak dikerjakan dari hulu ke hilir, jangan harap Jakarta bebas banjir," katanya.

Jokowi menambahkan, untuk melakukan normalisasi 13 sungai di Jakarta dan mengeruk waduk, drainase memerlukan waktu yang tidak singkat. Namun, jika persoalan di hulu (Bogor) tidak ada penanganan maka akan sia-sia.

"Tapi kalau di hulu nggak ada perubahan, ya sama saja. Banyak villa, banyak hutan dipangkas," tuturnya.

Adapun pertemuannya dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan dan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah beberapa waktu lalu bertujuan untuk mengintegrasikan penanggulangan banjir.

Dia pun memberikan solusi dengan berani memangkas villa di puncak untuk mengurangi debit air yang mengalir ke Jakarta. Tetapi, jika tidak melakukan hal tersebut, makan dapat membuat sumur resapan di setiap bangunan yang ada.

"Nah, soal villa itu misal kalau berani dipangkas, kalau enggak berani bikin sumur resapan sehingga mengurangi air yang datang ke Jakarta berkurang," tandasnya.

Sumber : merdeka.com