Tidak dapat diragukan lagi bahwa Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan nama julukan JOKOWI merupakan sosok yang saat ini cukup fenomenal di Indonesia. Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta ini telah menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat luas, semenjak dirinya mempopulerkan mobil SMK beberapa saat yang lalu.

Jokowi yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi perbincangan masyarakat ketika secara resmi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi dengan Partai Gerindra.
Dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga sering dijuluki sebagai Ahok.



Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih duluan populer dimata masyarakat Solo. Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah mampu melakukan perubahan yang sangat pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit of Java".
Baca biografi lengkap beliau DISINI

Baca biografi wakil beliau ( AHOK ) DISINI

Rabu, 24 Oktober 2012

Jokowi: Yang Pintar Itu Masyarakat, Bukan Jokowi

Kurnia Sari Aziza Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo meninjau lokasi banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Selasa, (23/10/2012). Ia didampingi oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI, Ery Basworo; Kepala Dinas Perumahan DKI, Novizal; dan Kepala Dinas Kesehatan DKI, Dien Emmawati. 
 

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memberikan apresiasi kepada para pemenang lomba menulis "Surat untuk Jokowi". Menurut dia, perlombaan tersebut dapat dijadikannya sebagai media alternatif untuk mendengar jeritan hati masyarakat.

Yang penting itu realisasinya. Ide, gagasan, itu akan muncul dari masyarakat. Jadi, yang pintar itu ya masyarakatnya, bukan Jokowi-nya 
 
-- Joko Widodo
"Ini semuanya proses mendengar. Bisa lewat surat, lewat Kaskus atau Twitter, semuanya bisa. Zaman juga sudah canggih," kata Jokowi di Hotel Novotel, Jakarta, Rabu (24/10/2012) malam.
Menurut dia, setelah proses mendengar adalah proses mengambil sebuah kebijakan dan realisasi.

"Yang penting itu realisasinya. Ide, gagasan, itu akan muncul dari masyarakat. Jadi, yang pintar itu ya masyarakatnya bukan Jokowi-nya. Ha-ha-ha," kata Jokowi seraya tertawa.

Jokowi pun berjanji pada pertengahan November realisasi kinerjanya sebagai Gubernur DKI akan segera terlihat.

Lomba menulis "Surat untuk Jokowi" ini berlangsung sejak 12 hingga 17 Agustus 2012 melalui Facebook. Lomba ini dan diprakarsai pengusaha muda Charles Honoris dan praktisi media sosial Sony Subrata.

Pemenang lomba adalah Muhammad Ramadhani (16), siswa kelas XII IPS SMA Negeri 91, Jakarta Timur. Dia menulis surat berjudul "Jakarta Baru? Mungkin Gak Sih?!. Melalui surat itu, Rama berhasil membawa pulang sebuah notebook.

Sumber : Kompas.com 

Surat Ramadhani untuk Pakde Jokowi dan Koh Ahok

"Kapan sih Jakarta bisa manusiawi?"

Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama usai dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta.
Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama usai dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
Hanya butuh 15 menit bagi Muhammad Ramadhani, pelajar kelas 3 SMA 91 Jakarta Timur untuk membuat secarik surat untuk pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Judulnya, "Jakarta Baru? Mungkin gak sih?!".

Surat yang menyebut Jokowi dengan panggilan akrab "Pakde", dan "Koh Ahok" untuk Basuki, memenangkan ajang lomba menulis surat untuk Jokowi yang diadakan di Facebook sejak 12-17 Agustus 2012.

Isi surat itu adalah curahan hati seorang pelajar asal Bekasi, yang sekolah di Jakarta, dan frustasi dengan Ibukota yang makin tak manusiawi. Uniknya Ramadhani menulis dengan bahasa gaul, ala anak zaman sekarang.

Siswa 16 tahun itu mendambakan transportasi umum yang nyaman, pembangunan yang merata hingga pelosok dan pinggiran Jakarta, nongkrong di tengah pemandangan hijau alih-alih pemandangan angkot dan polusi udara. "Kapan sih Jakarta bisa manusiawi, jalan-jalan ke kota bisa dengan jalan kaki tanpa harus diseruduk dari belakang oleh angkot atau ditabrak motor yang nyelonong masuk ke trotoar?"

Berikut isi surat Ramadhani:
"Jakarta, identik banget dengan yang namanya kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial terutama yang kaya dengan yang miskin.

Gw mau nulis surat bwt pakde jokowi dan koh ahok yang semoga terpilih menjadi pasangan gubernur DKI Jakarta. Perkenalkan, nama gw Rama. Gw tinggal di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. Kenapa gw antusias dengan pilkada Jakarta kali ini? Karena gw bersekolah dan melakukan aktivitas sehari-hari itu utamanya di daerah Jakarta. Gw lebih hafal daerah Jakarta daripada Bekasi, maklum soalnya gw Bekasinya, Bekasi pinggiran deket Ibukota.

Gw mau bahas mengenai transportasi dan fasilitas nih pakde. Masalah yang mendasar tentang transportasi itu adalah kurangnya angkutan umum yang nyaman dan massal. Ye gini aja dah, gw jalan dari Pondok Gede ke Ciputat. Itu kalo gw naek angkot, notabene gw harus muter2 naek turun angkot dengan biaya bisa ampe 6000 sekali pergi. Tapi kalo gw bawa motor, dengan duit 10.000 itu bisa bwt pulang pergi sampe 3 hari ke depan dengan jarak yang sama.

Intinya masyarakat DKI dan pinggiran DKI itu lebih mementingkan menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Kapan sih Jakarta bisa manusiawi, jalan jalan ke Kota bisa dengan jalan kaki tanpa harus diseruduk dari belakang oleh angkot ato ditabrak ma motor yang nyelonong masuk ke trotoar?

Gw liat realita pembangunan di Jakarta itu cuma berputar di situ-situ aja. Contohnya cuma di daerah Sudirman dan sekitarnya, di situ enak ada pepohonan rindang dan trotoar yang lumayan lebar. Tapi coba liatin deh klo lo pergi ke daerah pinggiran Jakarta. Boro-boro liat ada trotoar, liat pohon pun gak ada! Jangan bangun cuma di pusat kota doang dong! Pinggiran Jakarta juga harus! Kalo bisa tiap jalan itu harus ada trotoar dan zebra cross, percuma kalo angkutan umum massal diadakan tapi trotoar pun gak ada.

Gw sangat mendukung Jokowi dan Ahok ini. Kenapa? Karena mereka punya konsep yang modern yaitu Move People Not Cars. Dan gw suka banget konsep ini, mengurangi polusi dengan meninggalkan kendaraan pribadi dan jalan kaki.

Jakarta Baru mungkin terjadi kalo pemimpinnya bisa mempengaruhi bawahan-bawahannya dan juga rakyatnya untuk bersikap adil dan jujur. Dan juga dengan pembangunan yang progresif dan juga manusiawi. Jangan sampe benerin jalan aja bisa makan waktu 2 hari. Haduh haduh.

Jakarta Baru yang gw idamkan adalah di mana kita bisa nongkrong di luar dengan view yang 'green' bukan tempat nongkrong dengan pelataran polusi udara dan angkot merajalela. Bebaskan lahan untuk dibuat taman yang luas dan bener2 Green dan juga semoga para saudara-saudara gw yang tinggal di daerah yang 'kurang' seperti Penjaringan dan Koja. Semoga mereka cepet deh diberikan fasilitas oleh pemerintah biar kesannya gak kumuh.

Semoga pakde Jokowi dan koh Ahok bisa mewujudkan Jakarta Baru ya! I put my hopes high up in you both!

© VIVA.co.id

Teh Pahit Gubernur Jokowi


Seharian menyusuri daerah kumuh. Dari teh pahit sampai tempe mendoan.
Sang gubernur tak ada di rumah dinasnya pagi itu. Dua lelaki penjaga berdiri setengah mengantuk di depan rumah di Jalan Suropati, Jakarta Pusat. Hari masih terang-terang tanah. Bangunan tua tahun 1920, dengan jejak kolonial, bersemburat cahaya temaram. Di garasi, teronggok diam tiga mobil. Salah satunya, Kijang Innova.
Inilah rumah dinas Joko Widodo, Gubernur baru DKI Jakarta.
Seorang lelaki berbaju batik  menjelaskan, Joko Widodo atau Jokowi memang rapat di rumah itu semalam bersama wakilnya Basuki Tjahya Purnama alias Ahok. "Tapi ia tidak tidur di sini," ujar Devid Agus Yunanto, si lelaki berambut cepak,  salah seorang ajudan Jokowi.
Tak jelas di mana Jokowi bermalam. Biasanya, kata Devid, Jokowi tinggal di rumah kerabatnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Selama repot-repot saat masa kampanye, dia kerap berangkat dari rumah bergaya Solo itu, di Jalan Batu Gang Arab.
“Silakan cari ke Balaikota,” kata Devid. Dia lalu pergi.
Tak lama, Innova hitam itu meluncur keluar rumah. Wartawan VIVAnews membuntutinya. Mobil itu melaju kencang. Setelah sejumlah belokan menuju ke Cikini, mobil itu melambat, tepat di seberang Taman Ismail Marzuki (TIM). Lampu sennya berkedip, tanda merapat ke kanan. Mobil itu masuk ke pelataran parkir Hotel Alia, sebuah hotel bintang tiga--bukan empat atau lima--di bilangan Cikini.
Di lobi hotel sederhana itu, semua petugas bungkam. Mereka menggeleng atau menjawab tak tahu ketika ditanya apakah Jokowi menginap di situ.
Tiba-tiba, seorang lelaki jangkung, menyapa dengan senyum khas.
"Lho, kamu ngejar saya sampai ke sini?" Dia lalu tertawa lebar. Dialah Jokowi.
Sejak Rabu malam, dia dan istrinya rupanya menginap di hotel itu. Ada sejumlah tamu hotel mendekat dan menyapanya pagi itu. Jokowi menyalami mereka, dan lalu bergegas menuju Kijang Innova yang dia sewa sejak masa kampanye itu.
Dua orang ajudannya, Devid dan Ridwan, tampak agak berkeberatan ketika wartawan VIVAnews Luqman Rimadi meminta Jokowi melanjutkan perbincangan di mobil. Tapi Jokowijustru mempersilakan. "Boleh saja. Ayo, bareng saya ke Balaikota. Kapan lagi kamu naik mobil bareng Gubernur, mau tanya apalagi?" kata Jokowi sambil tertawa.
"Semua sudah siap kan, Devid?" Jokowi bertanya kepada sang ajudan. Devid adalah orang kepercayaan dalam kerja sehari-hari Jokowi. Lelaki itu telah membantunya sejak dia menjabat Walikota Solo. Di Jakarta, Devid tetap menjadi “juru giring”, mengatur agenda Jokowi yang padat.
Meski kini menjadi gubernur, Jokowi tak megubah kesahajaannya. Ia, misalkan, tetap saja akrab dengan para ajudan. Dia juga masih saja berbagi satu kamar jembar dengan para ajudannya, saat bertugas keluar kota. Alasannya simpel: supaya hemat dan gampang koordinasi.
Juga, setiap kali makan. Jokowi selalu satu meja dengan para ajudan, pengawal, maupun sopirnya. Soal ini ada yang unik. Jokowi punya semacam kebiasaan saat makan bersama itu. Setiap mereka diharuskan memilih menu makanan berbeda, tak boleh sama. Tujuannya satu: supaya bisa saling icip.
* * *
Pintu mobil itu ditutup. Sopir mulai menginjak gas. Dua sepeda motor vooreijder Dinas Perhubungan yang menunggu di seberang hotel, ikut bergerak. Tak ada sirine. Yang menarik, mereka juga tak mengawal sangar di depan seperti biasanya, melainkan cukup menguntit di belakang.
Di kabin depan mobil, duduk ajudan Devid dan sopir. Di lajur kedua, Jokowi bersama Luqman Rimadi dari VIVAnews. Sementara, di kursi belakang duduk Ridwan, yang seperti tenggelam di tengah baju-bajuJokowi yang bergelantungan di sisi kiri kabin mobil.
Jokowi bercerita kisahnya selama dua hari menjadi gubernur. Tak ada yang berubah, termasuk dia juga masih jarang sarapan. "Saya sebelum berangkat ndak sarapan. Jarang sekali. Paling nanti siang baru makan," kata Jokowi.
Pagi hari itu dia hanya menyeruput secangkir teh pahit. Panas. Tanpa gula.
Teh pahit itu seperti merefleksikan kebersahajaan Jokowi. Dia bercerita mengapa rumah dinasnya belum juga dia tempati. Katanya itu karena masih terus diberesi. Itu sebabnya, untuk sementara dia tidur di Hotel Alia Cikini.
Bagi seorang gubernur--pejabat setingkat menteri--pilihannya tidur di hotel berbintang tiga itu sungguh di luar dugaan. Standar untuk pejabat tinggi adalah hotel berbintang lima, paling banter bintang empat. Di Alia, Jokowi menyewa sebuah suite room yang harganya Rp750 ribu per malam. "Ya, kalau hotel itu yang murah-murah saja. Ndak usah mahal. Cari yang dekat Balaikota," kata Jokowi.
Jokowi memang dikenal bersahaja sejak memimpin Solo. Dia lebih senang naik taksi, atau mobil sewaan saat menjalankan tugas keluar kota. Ada kisah lucu soal hobi naik taksinya ini. Suatu kali, dia naik taksi ke sebuah pertemuan makan malam. Dia sebetulnya tamu paling ditunggu oleh tuan rumah, tapi petugas keamanan setempat malah mengusir taksi yang ditumpanginya, tak boleh masuk ke halaman rumah. Padahal, tuan rumah sudah siap menyambut di pintu utama.
Jika tugasnya lebih dari satu hari, Jokowi mengaku lebih nyaman pakai mobil rental. Pilihan favoritnya adalah Kijang Innova. Tentu karena mobil itu bisa menampung banyak orang. Tak heran, pada masa kampanye lalu Jokowi memasukkan ajudan, pengawal, dan tim suksesnya di dalam satu mobil itu. Baginya, berdesakan bukanlah masalah.
Bagaimana soal pakaian dinas gubernur yang belum juga dia kenakan hingga hari ketiga? Jokowi bilang itu karena setelah dilantik 15 Oktober lalu, dia langsung turun keliling kampung. Dia sengaja memakai pakaian bebas, tanpa lencana, agar tidak berjarak dengan warga.
* * *
Begitu tiba di pintu gerbang Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jokowi disambut para juru warta. Kerlap lampu blitz, kamera televisi, dan tape perekam mencegatnya.
Tapi yang membuat dia kaget adalah seorang ibu tua berjilbab yang menunggunya sejak pukul 8 pagi bersama suaminya yang juga renta.
Nenek itu adalah Eka Astuti. Sambil menangis dia mendatangi Jokowi, membawa sebuah map. Jokowimengajak orang tua itu masuk ke gedung Balai Agung, tempat ia berkantor. Setelah hampir 15 menit, Nenek Eka keluar. Wajahnya sumringah.
Usai rapat dengan para kepala dinas, Jokowi meluncur ke perkampungan Sungai Tiram, Bambu Kuning, Marunda, Jakarta Utara. Dia ditemani Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Ery Basworo, dan Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah, Novizal.
Mobil Jokowi selalu berada paling depan. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk tiba di perkampungan pesisir itu.
Selama menyusuri Marunda, Jokowi membalas teriakan kaum ibu  dengan senyum dan lambaian tangan. "Saya ingin menunjukkan di Jakarta masih ada kampung seperti ini. Jalanan seperti ini, rusak. Rumah seperti ini, kumuh," ujarnya.
Matahari mulai terik, tapi Jokowi tetap antusias berkeliling kampung. Orang-orang tak henti berebut salaman.
Tatkala meninggalkan lokasi, seorang wanita paruh baya datang mendekat. Dia berkaos putih, dengan celana selutut. Si ibu menyodorkan tas plastik. "Ini Pak,  oleh-oleh untuk di jalan," kata ibu itu sambil menggendong anaknya.
Jokowi menerima tas plastik kresek bening yang di dalamnya dilapisi kertas koran. Isinya: tempe mendoan.
"Ya, Bu. Terima kasih," ujar Jokowi sambil tersenyum.
Dia lalu bergegas menuju ke rumah susun Marunda. Butuh waktu 15 menit agar tiba di rumah susun yang dibangun sejak 2007 itu. Jokowi kaget, dan tercengang. Itu sebetulnya rusun megah, namun bak berhantu. Kayu jendela banyak yang terlepas. Temboknya kusam. Dinding berlumut. Lorong-lorong di sela bangunan itu pengap. Dari 26 blok yang dibangun, hanya tujuh yang terhuni.
Kepada para penghuni rusun, Jokowi berjanji memperbaiki dan menambah fasilitas. "Saya ini mau menyelesaikan masalah di sini, akan saya perbaiki segera supaya masyarakat mau tinggal di sini. Yang rusak-rusak diperbaiki. Ini dicat sampai atas," katanya. "Apa perlu masyarakat disubsidi penuh? Sampai tiga tahun juga ndak apa-apa. Dari pada tidak terpakai lima tahun, mau pilih yang mana?" (Baca: Satu Pekan Empat Langkah)
Dari rusun itu, Jokowi menuju ke jalur trase kering Kanal Banjir Timur Pintu Air Marunda. Ia hanya memantau dari dalam mobil jalan yang nantinya diperuntukkan sebagai jalur sepeda. Sesekali Jokowimemerintahkan ajudannya mencatat apa saja yang harus dibenahi. Banyaknya eceng gondok di aliran kanal, mengusik Jokowi. Dia ingin di sepanjang jalur trase kering dibangun taman agar dapat menjadi sarana hiburan bagi warga sekitar.
Puas memantau Kanal Banjir Timur, Jokowi kembali ke Balaikota. Di sana, ia telah ditunggu oleh wakilnya, Basuki "Ahok" Purnama. Mereka menggelar rapat bersama jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah. Berbeda dengan Jokowi yang sibuk turun ke lapangan, mantan Bupati Belitung Timur itu diserahi tugas membereskan berbagai hal di kantor.
Sebelum rapat, Ahok, sudah menerima tamu dari PT Asuransi Kesehatan (Askes). Mereka membahas rencana kerja sama untuk menjadikan Kartu Sehat sebagai proyek percontohan penerapan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Rencananya, Kartu Sehat yang dikelola PT Askes ini sudah dapat diterapkan pada Januari 2013. "Memang kami mau kerja sama dengan PT Askes,” kata Ahok.
Ia menanyakan kesanggupan PT Askes mengelola asuransi kesehatan seluruh warga DKI Jakarta yang berjumlah 9,6 juta jiwa. Bila sanggup, maka Pemerintah Jakarta akan menunjuk mereka.
Ahok juga bertemu dengan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko dan Ade Irawan. Pembicaraan berkisar di seputar pencegahan korupsi anggaran daerah. Mereka bertemu sekitar 45 menit.
Rapat dengan Jokowi digelar tertutup. Agendanya membahas berbagai temuan Jokowi selama meninjau lapangan.
Selesai rapat, sekitar pukul 18.30 WIB, Jokowi kembali ke rumah dinasnya di Jalan Taman Suropati, Menteng. Malam itu dia akan bersua teman lamanya, seorang warga Singapura di Hotel Sultan, Jakarta Selatan. Di rumah dinas itu, dia hanya mampir untuk mandi. Setelah dari Hotel Sultan, dia langsung menuju sebuah hotel di Bandara Soekarno Hatta. Jokowi hendak ke Solo, untuk menghadiri pelantikan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo.
Penerbangannya sebetulnya Jumat pagi. Tapi, Jokowi tak mau kesiangan. "Jam 5 pagi saya harus sudah di bandara. Dari pada kesiangan, ya mending menginap di hotel bandara saja," ujarnya.
Malam tiba. Langit sudah gelap. Besok hari, sang gubernur yang menyihir publik dengan kesahajaannya ini akan kembali bergulat memenuhi harapan yang terlanjur membubung tinggi. Dengan secangkir teh pahit. Panas. Tanpa gula. 
Sumber : viva.co.id

Jokowi: Pasar Ini Parah... Sangat Parah

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berdialog dan mendengarkan curhat para dengan pedagang tradisional di Pasar Abdul Gani, Jalan Abdul Gani Galur, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2012). Kedatangan Jokowi disambut hangat para pedagang maupun warga yang tengah berbelanja di pasar itu.

JAKARTA, Melihat Pasar Senen dan Pasar Lokasi Binaan (lokbin) Cempakasari, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo hanya garuk-garuk kepala. Setelah melihat Pasar Gembrong Lama, Galur, Jakarta Pusat, Jokowi langsung terperangah.

Bukan karena kagum, melainkan karena kondisi pasar yang masih semipermanen dan beratapkan terpal biru membuatnya terhenyak, apalagi gang sempit di Pasar Gembrong Lama menjadikannya seperti pasar senggol. Setiap yang melintas, pasti bersentuhan.

Jokowi lalu mendatangi seorang pedagang sayur dan masuk ke dalam lapaknya. Dia pun mendengarkan curhat para pedagang. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan mengenai kondisi pasar itu. Jokowi sempat geleng-geleng kepala melihat keadaan kumuh di pasar tersebut.

"Pasar ini... wah parah, lebih parah, sangat parah. Lihat saja ini bangunannya semipermanen, jalan buat airnya susah," kata Jokowi di Pasar Gembrong Lama, Galur, Jakarta, Rabu (24/10/2012).

Jokowi juga didampingi oleh Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah DKI Ratnaningsih. Sesekali Jokowi berbincang dengan Ratnaningsih bersama para pedagang. Ajudan Jokowi pun dengan sigap mencatat apa-apa saja yang menjadi keluhan para pedagang dan pengunjung pasar.

Kunjungan Jokowi ke Pasar Gembrong Lama ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar lima menit.

Sebelumnya, Jokowi juga meninjau Pasar Senen Blok III Blok VI dan Pasar Cempakasari, Jakarta Pusat. Di sana, ia juga berkomunikasi dengan para pedagang yang mengakui jika biaya sewa kios mereka terlalu mahal dan juga berkomunikasi dengan kepala pasar tersebut.

Dikatakan Jokowi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus membangun pasar dan menjadi pengelola pasar. Dengan begitu, harganya akan terjangkau. Ada kekhawatiran pedagang, kalau mahal, mereka tidak mampu membeli lapak atau kios, akhirnya mereka tersingkir.

"Ya, itu masalahnya. Kita carikan jalan keluarnya. Yang bangun itu Pemerintah. Jadi, pedagangnya tetap masuk. Nanti akan saya panggil Dirut PD Pasar Jaya. Saya mau cepet-cepet pembangunannya. Jangan lama-lama," ujarnya.